KISAH SARAH (ISTRI NABI IBRAHIM ALAIHISSALAM) DALAM AL QUR’AN

Bismillahirrahmanirrahim..

MUKADIMAH

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Sholawat yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Umatnya, bukan hanya untuk bershalawat pada rasulullah serta keluarga tetapi harus pula dibarengi dengan sholawat kepada Nabi Ibrahim beserta keluarganya (Istri dan anak-anaknya).

Di dalam Al Qur’an pun ada dua manusia yang disebut sebagai uswatun hasanah yaitu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (33:21), dan Ibrahim ‘alaihissalam (60:4).

Maka dibalik kemuliaan sosok ibrahim sebagai uswatun hasanah dan disebut pula sebagai kekasih Allah, maka inilah sosok yang mulia yang mendampingi perjuangan dakwah Ibrahim ‘alaihissalam, dialah Sarah sang istri tercinta.

SEKILAS TENTANG SARAH

Ketika Nabi Ibrahim berdakwa di negeri Babilonia, tidak ada manusia yang beriman di negeri itu kecuali dua orang yang keduanya adalah kerabat dari Ibrahim. Kedua orang itu adalah Luth ‘alaihissalam (keponakan Ibrahim yang juga nabi) dan Sarah (Sepupu Ibrahim yang kemudian menjadi istrinya).

Setelah menikah dengan Sarah Ibrahim pindah ke negeri Syam yaitu di wilayah Al Quds. Di negeri inilah Hajar di hadiahkan oleh Raja Mesir kepada Sarah. Yang kemudian dinikahi di syam atas ijin dari sarah.

Kecintaan Ibrahim kepada Sarah luar biasa besarnya, hal ini dikarenakan 3 hal:
1. Karena Agama Sarah
Tidak orang beriman di bumi saat itu kecuali 3 orang yaitu Ibrahim,Luth dan Sarah.
2. Karena Sarah juga adalah kerabatnya, yaitu sepupu dari Ibrahim.
3. Karena Sarah adalah wanita yang sangat cantik
Para ahli ilmu menyampaikan bahwa setelah Hawa tidak ada lagi wanita yang melebihi kecantikan Sarah. Bahkan menurut para ahli tafsir,ketampanan Nabi Yusuf ‘alaihisalam adalah berasal dari nasabnya Sarah. [Dari Isha'(putra) → Ya’kub(cucu) → Yusuf(cicit)]

Allah Subhanallahu wa Ta’ala banyak menyampaikan pujiannya kepada Nabi Ibrahim bahkan Ibrahim dinyatakan lulus dari semua ujian yang berikan Allah. Dan ujian ini dilewati bersama sang istri Sarah. Salah satunya ketika Ibrahim meminta keturunan, dalam waktu yang lama sekali baru Allah berikan bahkan di saat usia keduanya sudah senja.

Ini adalah pelajaran berharga bagi kita bahwa orang beriman tidak akan pernah berputus asa dari Rahmat Allah, karena mereka selalu berbaik sangka kepada Allah

Hingga akhirnya Allah menganugerahi dengan kelahiran Ismail dan Ishaq.

KISAH IBRAHIM DAN SARAH DALAM AL QUR’AN

Pembahasan pada kajian ini ada pada 2 surah yaitu Ad Dzariyat ayat 69-73 dan Huud ayat 24-30.
Kedua bagian surah ini mengisahkan tentang sarah dan ibrahim, namun pada keduanya terdapat ibrah yang berbeda.

Para ulama tafsir mengatakan bahwa tidak ada pengulangan dalam Al Qu’ran karena boleh jadi kisah yang disampaikan sama tetapi Allah ingin mengajarkan ibrah yang berbeda kepada kita.

MENGUPAS KISAH DALAM SURAH [11:69-74] dan [51:24-30]

Qs. Huud : 69

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat”. Ibrahim menjawab: “Selamat(atas kamu),” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.

Kajian:
[Huud:69]
Surat ini dikisahkan saat Ibrahim dan Sarah berada di palestina sepulang dari mesir. Datang malaikat ke rumah ibrahim, para malaikat ini berjumlah 3 orang dan mereka adalah: Jibril,Mikail dan Isrofil. Pada awal kedatang ini ibrahim tidak mengenali mereka.
Malaikat ini datang dengan tujuan untuk membawa kabar gembira.

Kisah ini mengandung pengajaran yang penting untuk kita perhatikan salah satunya perihal tentang adab bertamu :

(1) ketika tamu itu mengucapkan ‘salaaman’ dan Ibrahim menjawab ‘salaamun‘.
Mengapa memakai salaamun?
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam bahasa arab salaamun adalah Rafa‘ yang ditandai dengan dhommah yang memiliki sifat lebih kokoh dan kuat dari pada Nashob yang ditandai dengan fathah.

hal ini mengisyaratkan bahwa Ibrahim mengajarkan kita agar menjawab salam dengan cara yang lebih baik atau minimal dengan yang setara meskipun kita belum mengenal lawan bicara kita.

(2) […tidak lama kemudian..]
Kalimat ini menunjukkan bahwa adabnya ketika ada tamu kita dengan segera menyuguhi tamu dengan hidangan-hidangan. Karena menghormati tamu adalah bagian dari iman.

Ad Dzariyat : 24

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

Kajian :

Ada hal yang berbeda dengan surat Ad Dzariyat: 24
(1) diawali dengan kalimat هَلْ أَتَاكَ [bukankan sudah sampai kepadamu].
Kalimat awal ini bertujuan untuk membuat orang yang diberi cerita menjadi lebih penasaran.

(2) kalimat ضَيْفِ : dalam bahasa arab bersifat tunggal, padahal jumlah tamu ibrahim ada 3. Mengapa kalimat ini bentuknya tidak jamak?
Sekali lagi pelajaran berharga dalam adab bertamu, sebanyak apapun tamu yang datang, berapapun teman yang kita punya maka anggap cuma satu ( artinya perlakukan semuanya dengan akhlak yang sama yaitu dengan akhlak yang baik), maka begitulah akhlak berteman.

(3) kalimat الْمُكْرَمِينَ :
Bentuk jamak dari kemulianan (kemuliaan yang datang dari Allah kepada malaikat dan kemuliaaan yang datang dari Ibrahim untuk tamunya)
Bentuk kemuliaan yang besar adalah ketika sang tuan rumah yang lansung menyuguhkan hidangan untuk tamunya.

Ad dzariyat ayat 25

إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaaman(salam)”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (salam)”. (Mereka itu) orang-orang yang belum dikenalnya”.

Kajian :
(1) Jika ada tamu jawab salamnya terlebih dahulu meskipun tidak kenal (memuliakan tamu sebagai bukti iman)

Ad Dzariyat : 26

فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.

Kajian :
(1) kalimat فَرَاغَ [diam-diam masuk] artinya Ibrahim masuk ke dalam pelan-pelan untuk memberi isyarat kepada istrinya Sarah
(2) kalimat أَهْلِهِ [keluarga/ hanya istri], maka mulai muncullah sarah dalam kisah ini.
(3) […kemudin Ibrahim datang membawa anak sapi gemuk..]
Disinilah terlihat bahwa keluarga Ibrahim begitu dermawan dan sangat total dalam berbuat baik.
Jika menengok kembali disurah huud:69, maka kita akan mendapati bahwa daging sapi yang disuguhkan adalah dimasak dengan cara dipanggang dengan batu yang membara ( بِعِجْلٍ حَنِيذٍ) ,dan ini adalah cara memasak daging yang paling baik.
Yang memasak daging terbaik ini adalah Sarah, ini mengajari kita para wanita bahwa memasak adalah keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang wanita, dan dapur adalah kemuliaan bagi wanita.
(4) Suguhan berupa 1 anak sapi gemuk, untuk 3 tamu adalah jumlah porsi yang berlebih sekali, maka adabnya adalah ketika menyuguhi tamu berilah porsi yang lebih dari jumlah tamu yang ada.

Ad Dzariyat : 27

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

Lalu dihidangkannya kepada mereka. (Tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata: “Mengapa tidak kamu makan”.

Kajian :
Surah ad dzariyat ini menunjukkan dengan detail prosesnya berbeda dengan dalam surah huud.
(1) kalimat فَقَرَّبَهُ yang berarti mendekatkan hidangan kemudian dipersilahkan.
(2) sebelum mempersilahkan ibrahim memberi contoh dengan memakannya terlebih dahulu.

Huud : 70

فَلَمَّا رَأَىٰ أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۚ قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمِ لُوطٍ

Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (Malaikat) berkata: “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah diutus kepada kaum Luth”.

Kajian :
(1) Ibrahim sebelumnya sudah mencontohkan makan terlebih dahulu tapi tangan tamu-tamunya tidak sampai-sampai pada daging maka muncul rasa takut/khawatir pada diri Ibrahim (takut tamunya berniat tidak baik).
(2) Kemudian malaikat menjawab ketakutan Ibrahim dengan kalimat “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah diutus kepada kaum Luth”

Ad Dzariyat : 28

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

Maka dia (Ibrahim) merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq).

Kajian :
(1) terjadi peristiwa yang sama akan tetapi di ayat ini kemudian malaikat memberi kabar gembira atas kelahiran Ishaq dan kemudian lahirlah Ya’qub.

Huud :71

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ

Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya’qub.

Kajian :
(1) Ada 2 pendapat dari ulama tafsir mengenai kalimat [..istrinya berdiri..]. Yang pertama sarah berdiri dibalik tirai, dan pendapat kedua mengatakan bahwa Sarah dari awal berdiri di ruang tamu agar siap siaga untuk melayani kebutuhan para tamunya.
(2) kalimat [..kemudian dia tersenyum..], ada beberapa pendapat ulama mengenai alasan senyumnya Sarah, yaitu :
– Sarah senyum karena makanannya tidak disentuh oleh tamunya
– Sarah senyum bahagia karena kabar gembira yang dibawa malaikat
– sarah senyum karena malaikat mengatakan mereka adalah malaikat yang di utus untuk kaum luth yang menyimpang.
(3) Allah memberi Nabi Ibrahim 2 anak sebagai kabar gembira.
→[51:28], bi ghulamin Aliim,anak yang berilmu yaitu Ishaq.
→[37:101], bi ghulamin haliim, anak yang berakal baik dan dengan kesabaran yang sempurna yaitu Ismail.

Ishaq→Aliim
Ismail→Haliim
Mengapa ada perbedaan?
(1) sifat yang menonjol dari masing-masing anak berbeda (orangtua harus pandai-pandai melihat porensi anak.

(2) Anak keturunan Ishaq memiliki kecerdasan dan potensi logika yang luar biasa, yaitu Bani Israil.

(3) Anak keturunan Ismail, selain akal yang cerdas memiliki hati yang baik,

jadi tidak ada alasan bagi kita sebagai umat Muhammad dari keturunan ismail untuk tidak bisa memiliki sifat haliim.

(4) Konsep ayat yang berbeda disesuaikan dengan peristiwa lanjutan yang dikisahkan.

(5) arti haliim adalah memiliki kesabaran yang teruji sebagai hasil dari interaksi-interaksi dalam kehidupannya. (Ini bisa kita tengok dari kisah ujian ismail dari Ia dilahirkan hingga dewasa).

(6) [51:28] adalah kabar gembira untuk Ibrahim.
Ibrahim→anak yang cerdas
[11:71] adalah kabar gembira untuk Sarah.
Sarah→kamu akan punya anak dan cucu (kabar gembira yang berlipat).
Pada intinya berita gembira ini untuk keduanya Ibrahim dan Sarah, tapi dari sini Allah menunjukkan kepada kita bagaimana ekspresi kebahagiaan seorang ayah dan ibu dari sisi yang berbeda.

Huud : 72

قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَٰذَا بَعْلِي شَيْخًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

Dia Istrinya berkata: “Sungguh ajaib, mungkinkan aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua?Ini benar-benat sesuatu yang ajaib”.

Ad Dzariyat : 29

فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ

Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul”.

Kajian :
(1) Dalam Surat Huud:72, disini sarah yang muncul, ini menunjukkan bahwa wanita lebih ekspresif dibanding lelaki.
(Ad dzariyat:29→sarah memekik suaranya dan menepuk wajahnya)

(2) sarah keheranan bagaimana mungkin dia biasa hamil sementara Ia sudah tua, Suaminya sudah tua, dan Ia mandul.
Kemudian malaikat menjawab pada surah huud:73.

Hud : 73

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

Kajian :
(1)Malaikat berdialog dengan Sarah “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait!”

Kalau urusan sebab akibat, Maka allah itu diluar hukum sebab akibat. Ada Allah yang Maha pemberi rezeki, tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Mereka adalah keluarga yang layak diberkahi dan disayangi Allah, maka mari kita belajar dari mereka agar kita menjadi keluarga yang layak diberkahi dan disayangi.

KISAH DIBALIK KECEMBURUAN SARAH

Ada kecemburuan di hati Sarah terhadap Hajar ketika Hajar menjadi Istri Nabi Ibrahim. Dalam Islam istri mencemburui istri lain adalah wajar. Kecemburuan Sarah mencapai puncaknya ketika Hajar melahirkan Ismail. Sampai suatu ketika Sarah mengadukan kecemburuannya kepada Ibrahim dengan mengungkap peristiwa-peristiwa lalu yang dialami selama bersama Hajar. Bahkan saat kecemburuan ini sarah sampai bersumpah dengan nama Allah akan memotong sebagaian tubuh Hajar, tetapi saat kecemburuan itu redah Sarah menyesal. Akan tetapi karena sudah terlanjur bersumpah atas nama Allah, maka untuk memenuhi sumpahnya Ibrahim menyuruh Sarah melubangi telinga Hajar.

Dan dari telinga yang berlubang itu lah maka Hajar menjadi wanita pertama yang memakai anting. Maka setelah berhias dengan anting Hajar semakin cantik, dan semakin cemburu lah Sarah.
Dan untuk mengatasi kecemburuan Sarah kepada Hajar, Nabi Ibrahim memisahkan Hajar hingga 1000 km lebih yaitu ke Makkah.
Kemudian Ibrahim kembali ke Palestina dan tinggal bersama Sarah.

Ibrahim lebih banyak tinggal di Palestina. Para ulama tafsir menyebutkan Ibrahim pernah berkunjung hanya 3 kali ke Makkah.
Pertama kali saat menyampaikan mimpinya untuk menyembelih Ismail,kedua dan ketika tidak bertemu ismail melainkan bertemu dengan istri Ismail.

Mengenai kecemburuan wanita, Islam membahas secara khusus masalah ini bahwasanya :
(1) kecemburuan itu wajar tapi sampai batas yang tidak dibenci Allah.
(2) kecemburuan apabila tidak pada posisi yang tepat,akan berdampak buruk.

Kecemburuan itu sendiri ada yang dicintai Allah dan ada yang dibenci Allah:
(1) Kecemburuan yang dicintai Allah adalah kecemburuan ribath yaitu kecemburuan kepada seseorang saat ia berada di tempat yang salah / posisi dosa.
(2) Kecemburuan yang dibenci Allah adalah kecemburuan tidak pada posisi dosa. Misalnya cemburu berlebihan seorang istri kepada istri yang lain.

Dari Abu Dawud, bahwa Aisyah radhiyallahuanha meriwayatkan, “Rasulullah mengatakan bahwa wanita itu kalau sudah cemburu tidak bisa melihat mana atas lembah, mana bawah lembah.”

Maka bijak lah dalam mengelolah rasa cemburu kita.

Allahu a’lam..

Ambi Ummu Salman,
Depok,15062016

*Disarikan dari materi Dauroh Wanita dalam AlQur’an yang sampaikan oleh Ust. Budi Ashari di Masjid Al Huda Depok.

Add Comment